Bagaimana ARKO diselenggarakan?
Langkah-langkah yang disiapkan dalam ARKO ini mengikuti siklus Wildlife Disease Risk Analysis (WDRA) seperti yang dijelaskan dalam (Jakob-Hoff et al., 2014). Langkah-langkah tersebut dijabarkan secara detail di sini agar peserta dan pembaca dapat menilai objektivitas dan kualitas pengambilan keputusan, serta memungkinkan proses duplikasi analisa risiko penyakit untuk spesies atau kegiatan konservasi yang lain. Dalam setiap FGD, peserta ARKO difasilitasi secara netral untuk berdiskusi dan mengambil keputusan yang disepakati bersama. Setiap FDG diawali dengan penjelasan singkat mengenai langkah yang akan dilakukan dalam FGD tersebut, kemudian peserta dibagi dalam kelompok untuk bekerja. Disiapkan pula lembar kerja untuk memudahkan peserta mencapai target diskusi pada setiap sesi.
Komunikasi Risiko
Langkah pertama ARKO berfokus pada para pelaku, atau seringkali disebut dengan istilah pemangku kepentingan (stakeholder). Mengidentifikasi stakeholder yang tepat memegang peranan kunci dalam kesuksesan. Membangun komunikasi antar para stakeholder menjadi tujuan utama dari langkah ini dan proses ARKO secara keseluruhan. Proses ini dilakukan dalam FGD pertama ARKO, yang diselenggarakan secara daring.
Stakeholder dalam ARKO dikelompokkan sesuai quadran pengaruh (influence) dan minat (interest) seperti gambar berikut. Memahami minat dan pengaruh dari para mitra akan membantu kita dalam berkomunikasi dan membangun hubungan saling percaya antar para pihak.
Untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan peserta diminta untuk mengisi dua google form. Formulir yang pertama digunakan untuk mengidentifikasi institusi mereka sendiri dalam hal posisi di kuadran, peran, tanggung jawab, dan informasi yang mereka butuhkan dalam pengelolaan konservasi dan kesehatan orang utan. Formulir yang kedua dikerjakan dalam kelompok kecil (4-5 orang) guna mendaftar pemangku kepentingan lain yang dirasa paling relevan bagi mereka.
Seluruh hasil dari google form dikompilasi dalam bentuk tabel dan
disampaikan kepada peserta dalam FGD berikutnya.
Kompilasi hasil analisa pemangku kepentingan ini ditinjau dan didiskusikan ulang dalam FGD ARKO final yang diselenggarakan secara luring.
Diagram berikut menggambarkan proses dalam analisa pemangku kepentingan ARKO.
Langkah 1. Deskripsi Masalah
Setelah mengindentifikasi para pemangku kepentingan, langkah selanjutnya adalah mencari tahu dan menyusun informasi mengenai:
- Latar belakang dan justifikasi: status konservasi orangutan di Indonesia, estimasi jumlah populasi dan sebaran, kegiatan penyelamatan, rehabilitasi, dan reintroduksi yang berlangsung.
- Tujuan, cakupan, dan fokus: perubahan apa yang diinginkan dari analisa ini, dan mengapa perubahan tersebut diinginkan; populasi dan kegiatan konservasi apa yang akan dianalisa dan difokuskan.
- Pertanyaan-pertanyaan kunci: rumusan masalah utama yang melandasi proses analisa ini.
- Asumsi dan batasan: hal-hal eksternal yang tidak dapat dikontrol.
- Risiko yang dapat diterima: batas risiko yang tidak dapat dihindari, karena tidak mungkin melakukan sesuatu dengan tanpa risiko sama sekali.
Langkah ini dilakukan dalam FGD kedua yang diselenggarakan secara daring.
Luaran dari langkah ini adalah sebuah dokumen singkat (briefing notes) yang berisi hal-hal di atas, yang dapat digunakan untuk:
- Menjustifikasi penggunaan sumber daya.
- Mendapatkan kepercayaan dan dukungn dari para pemangku kepentingan.
- Mempersiapkan konteks untuk analisa risiko selanjutnya.
Diagram berikut menggambarkan proses Deskripsi Masalah.
Langkah 2. Identifikasi Ancaman
Dalam langkah ini peserta mengidentifikasi jenis-jenis ancaman (hazard) yang mengganggu kesehatan orangutan, baik yang berupa penyakit maupun non-penyakit. Daftar jenis ancaman ini dilengkapi dengan data ilmiah mengenai agen penyebab, faktor pendukung, dan tingkat keyakinan berdasarkan pengetahuan terkini.
Selanjutnya, peserta akan menyusun kriteria definisi berbagai tingkatan peluang dan dampak yang akan digunakan untuk mengkuantifikasi setiap ancaman yang terdaftar.
Terakhir, peserta akan membuat matriks prioritas ancaman. Dalam ARKO, langkah ini dilakukan dalam dua kali FGD daring.
Tabel untuk menyusun daftar ancaman kesehatan, kriteria peluang dan dampak, serta matriks prioritas dapat diakses disini.
Luaran dari langkah ini adalah daftar ancaman penyakit dan non-penyakit dalam konservasi orangutan dengan estimasi tingkat peluang terjadinya serta dampaknya pada populasi target (orangutan).
Diagram berikut menggambarkan proses identifikasi ancaman.
Langkah 3. Analisa Risiko
Dari langkah identifikasi dan matriks ancaman di atas, peserta selanjutnya akan bersama-sama memilih dan menjustifikasi ancaman yang perlu dikelola secara aktif, serta mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan (knowledge gap). Dalam ARKO, langkah penilaian risiko dilaksanakan dalam FGD final secara luring.
Proses justifikasi ancaman prioritas diawali dengan membuat jalur transmisi atau jalur terjadinya ancaman tersebut dalam ruang lingkup yang telah diidentifikasi di langkah 1.
Dari jalur transmisi dan kejadian tersebut, peserta menentukan titik kendali kritis, yaitu titik dimana ancaman dapat masuk/menyerang, serta dimana aksi intervensi dapat dilakukan.
Selanjutnya, dari jalur transmisi dan kejadian tersebut, peserta mendiskusikan dan menilai:
- Peluang masuknya ancaman dalam populasi target.
- Peluang populasi target terpapar ancaman jika ancaman tersebut
sudah masuk. - Dampak yang terjadi jika populasi target terpapar ancaman.
- Kesenjangan informasi mengenai ancaman tersebut.
Luaran dari langkah ini adalah:
- Alur perpindahan satwa dari penyelamatan hingga reintroduksi.
- Identifikasi titik kritis (critical control points) dari alur tersebut dimana dapat terjadi penularan penyakit / ancaman lain.
- Tabel penilaian risiko untuk setiap ancaman prioritas.
Diagram berikut menggambarkan proses penilaian risiko.
Langkah 4. Pengelolaan Risiko
Berdasarkan analisa ancaman yang telah disusun sebelumnya, langkah selanjutnya adalah merencanakan strategi pengelolaan untuk mengurangi peluang dan dampak dari ancaman secara efektif dan praktis. Dalam ARKO, langkah ini dilaksanakan dalam FGD final secara luring.
Dari setiap titik kendali kritis yang telah ditentukan sebelumnya, peserta membahas dan menentukan opsi-opsi mitigasi.
Dari setiap opsi mitigasi, peserta mendiskusikan dan menentukan apakah opsi mitigasi tersebut efektif (tinggi-sedang-rendah) dan dapat dikerjakan di lapangan (tinggi-sedang-rendah).
Luaran yang diharapkan dari langkah ini adalah daftar tindakan mitigasi yang telah dipertimbangkan dan diukur efektifitasnya untuk mengelola titik-titik kritis.
Diagram berikut menggambarkan proses pengelolaan risiko.
Langkah 5. Implementasi & Tinjauan
Langkah terakhir dari ARKO adalah menyusun kegiatan implementasi dari rencana pengelolaan kesehatan terhadap ancaman-ancaman prioritas; serta menyusun metode evaluasinya.
Tahap ini dipertimbangkan akan lebih efektif bila dilakukan oleh masing-masing institusi bersama dengan mitra yang relevan. Setiap peserta dapat memilih opsi mitigasi yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi mereka.
Peserta kemudian mendetailkan sasaran, aksi, rentang waktu/ frekuensi, dan penanggung jawab untuk implementasi langkah mitigasi.
Peserta juga mendetailkan ukuran sukses dari langkah mitigasi yang akan diimplementasikan serta data yang dibutuhkan untuk menilai kesuksesan langkah tersebut. Tabel berikut dapat digunakan untuk menyusun strategi implementasi dan evaluasi.
Diagram berikut menggambarkan proses implementasi dan evaluasi.
